JAMBI — Perum Bulog menggenjot produksi beras premium di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Kendal, Jawa Tengah, hingga hampir 600 ton per bulan untuk memenuhi permintaan jaringan ritel modern yang terus naik. Fasilitas itu kini beroperasi penuh satu sif sejak Juni atau Juli 2026. Pasokan diarahkan langsung ke pasar tanpa menumpuk stok barang jadi.
Manajer Operasional SPP Bulog Kendal, M Aziz Latif, mengatakan kapasitas produksi saat ini sudah terpakai penuh untuk satu sif. Volume itu relatif terjaga sejak pertengahan 2026 seiring meningkatnya kebutuhan pasokan dari sejumlah jaringan ritel modern. "Rata-rata itu kami mulai dari bulan Juni atau Juli ya, itu rata-rata itu sekitar hampir 600 ton per bulan," kata Aziz saat ditemui di Kendal, Jawa Tengah, Jumat (30/10/2026).
30 Ton per Hari, Produksi Langsung Disalurkan
SPP Kendal memproduksi sekitar 30 ton beras premium setiap hari. Pengolahan berjalan pukul 08.00 hingga 17.00 dengan sistem satu sif untuk menjaga efisiensi operasional.
Tingginya permintaan mengubah pola kerja Bulog. Hasil produksi tidak lagi ditumpuk sebagai stok barang jadi, melainkan langsung dikirim ke ritel modern. "Jadi ketika produksi langsung didistribusikan iya ke ritel modern, seperti itu," ujar Aziz.
Bulog Kendal memasok beras premium ke sejumlah jaringan ritel di Jawa Tengah, antara lain Indomaret, Alfamart, Super Indo, Indogrosir, dan Farmers Market. Produk yang dipasarkan mencakup merek Punokawan, Sentra Ramos, serta Sedap Super.
Fokus Bergeser dari PSO ke Beras Komersial
Permintaan yang naik mendorong perubahan fokus operasional SPP Kendal pada 2026. Tahun sebelumnya, fasilitas ini lebih banyak mendukung pengolahan beras melalui skema pelayanan publik atau public service obligation (PSO). Kini kegiatan produksi lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan beras premium komersial.
Aziz menjelaskan perubahan itu berkaitan dengan berkurangnya pasokan beras premium di ritel modern. Banyak penggilingan padi beralih memproduksi beras fortifikasi atau beras khusus yang harga jualnya di atas harga eceran tertinggi (HET) beras premium. "Nah, sehingga suplai beras premium ke ritel modern ini kan berkurang," ujarnya.
Gandeng 8-10 Penggilingan Kecil di Kendal dan Demak
Untuk menjaga kesinambungan produksi, Bulog Kendal menggandeng sekitar delapan hingga 10 penggilingan kecil di wilayah Kendal dan Demak. Beras hasil produksi penggilingan kecil dibeli, lalu diolah kembali menjadi beras premium.
Skema itu sekaligus menjadi alternatif pengadaan bahan baku ketika harga gabah kering panen meningkat. Kenaikan harga gabah menjadi tantangan tersendiri karena Bulog harus menjaga biaya produksi agar harga jual beras premium tidak melampaui HET Rp 14.900 per kilogram. "Namun, fluktuasi harga gabah saat ini memang tinggi sehingga itu menjadi tantangan bagi kami agar kami bisa memproduksi beras premium dengan harga yang sesuai dengan HET dan di bawahnya," kata Aziz.
SPP Kendal juga membatasi kegiatan produksi hingga pukul 17.00 untuk menghindari tarif listrik pada waktu beban puncak. Lewat pengaturan biaya operasional dan penguatan pasokan bahan baku, Bulog berupaya mempertahankan produksi beras premium sekaligus menjaga ketersediaannya di jaringan ritel modern Jawa Tengah.