JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka menguat 111,07 poin atau 1,85 persen ke posisi 6.118,73. Penguatan ini sejalan dengan pergerakan bursa saham global yang kompak menghijau, dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kesepakatan damai yang diumumkan Presiden AS Donald Trump akan ditandatangani secara resmi pada 19 Juni 2026 di Swiss. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa memorandum of understanding (MoU) telah difinalisasi. Isi kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, serta komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir selama proses negosiasi final berlangsung.
Sentimen Global dan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan
Selain kabar damai AS-Iran, pelaku pasar juga mencermati rapat pertama The Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Lembaga tersebut diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50-3,75 persen. “Membaiknya situasi geopolitik, mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan langsung meningkatkan selera risiko investor,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 ikut naik 13,38 poin atau 2,24 persen ke posisi 601,83. “Kiwoom Research cukup optimis untuk rekomendasikan average up bertahap,” tambah Liza.
Bursa Asia dan Wall Street Kompak Menguat
Pada perdagangan akhir pekan lalu, bursa saham Eropa dan Wall Street kompak menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,17 persen, S&P 500 naik 0,50 persen, dan Nasdaq Composite naik 0,31 persen. Di Asia, indeks Nikkei pagi ini tercatat melesat 5,44 persen ke 69.680,00, disusul Shanghai yang naik 0,94 persen ke 4.096,31.
Risiko Fiskal Domestik dan Obligasi Danantara
Dari dalam negeri, Bank Dunia memperkirakan defisit APBN Indonesia tetap tinggi di level 2,8 persen PDB pada 2026-2027, akibat tekanan subsidi energi dan kenaikan beban bunga utang. Di tengah kondisi itu, Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) menerbitkan obligasi global perdana senilai 1,5 miliar dolar AS dengan yield 5,35 persen (tenor 5 tahun) dan 5,95 persen (tenor 10 tahun). Penerbitan ini merupakan bagian dari program GMTN senilai 5 miliar dolar AS.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) memperdalam kerja sama keuangan. Langkah itu mencakup peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), perluasan transaksi mata uang lokal, serta peluncuran QR lintas batas Indonesia-China. Bank Mandiri juga tercatat ikut serta dalam sistem pembayaran lintas negara CIPS China.