Pencarian

Pertamina Dorong Kolaborasi Energi ASEAN di ASCOPE, Soroti Ketergantungan Impor Minyak 55%

Sabtu, 31 Oktober 2026 • 15:50:31 WIB
Pertamina Dorong Kolaborasi Energi ASEAN di ASCOPE, Soroti Ketergantungan Impor Minyak 55%
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan sambutan dalam agenda 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) di Sanur, Bali.

JAMBI — PT Pertamina (Persero) mendorong penguatan kolaborasi strategis antarnegara ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi regional di tengah pertumbuhan konsumsi yang pesat. Dorongan itu disampaikan dalam rangkaian agenda 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) bertema Strengthening Resilience Through Collaboration di The Meru, Sanur, Bali. Ketahanan energi dinilai kian rentan karena 55% impor minyak ASEAN masih bergantung pada kawasan Timur Tengah.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan, ketahanan energi bukan sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini. Menurut dia, ketahanan juga mencakup keberlanjutan pasokan untuk generasi mendatang.

"Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung perekonomian, dan melayani generasi mendatang," ujar Simon dalam acara yang digelar Senin (26/10).

Konsumsi Energi ASEAN Capai 463 Mtoe pada 2024

Data Asean Energy Statistical Yearbook 2026 yang terbit Agustus 2026 mencatat total konsumsi akhir energi (TFEC) ASEAN pada 2024 mencapai 463 juta ton setara minyak (Mtoe). Angka itu melesat dibandingkan posisi 2005, dengan minyak tetap menjadi bahan bakar paling dominan sepanjang periode.

Laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA) menambahkan, kebutuhan minyak di kawasan yang dihuni 9% populasi dunia itu mencapai 5 juta barel per hari. Angka tersebut naik 1,5% per tahun sejak 2015.

Industri Manufaktur Jadi Pengguna Energi Terbesar

Industrialisasi menjadi salah satu pemicu utama lonjakan kebutuhan energi. Berdasarkan data IEA, sektor industri merupakan pengguna akhir energi terbesar dengan porsi 45% dari total konsumsi energi ASEAN saat ini.

Faktor kedua adalah kenaikan pendapatan masyarakat yang mendorong mobilitas. Pertumbuhan kepemilikan kendaraan, terutama roda dua, ikut menaikkan konsumsi bahan bakar minyak di kawasan.

Di sisi lain, kapasitas produksi minyak negara-negara ASEAN masih terbatas. Kondisi itu membuat anggota kawasan harus bergantung pada impor dan rentan terhadap gangguan pasokan.

Timur Tengah Pemasok 55% Impor Minyak ASEAN

Kawasan Timur Tengah menjadi tujuan utama impor 55% minyak ASEAN. Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut, seperti yang terjadi belakangan ini, berpotensi mengganggu pasokan dan mengancam ketahanan energi regional.

Simon mengangkat tema Nusantara in Harmony untuk menekankan pentingnya kerja sama di tengah keberagaman negara ASEAN. Ia mengibaratkan kolaborasi sebagai orkestra, dengan setiap instrumen berperan berbeda tetapi saling melengkapi.

"Hal yang sama berlaku bagi komunitas energi regional kita. Kekuatan kita bukan terletak pada upaya menjadikan setiap negara sama, melainkan pada kemampuan untuk mendorong setiap negara menyumbangkan keunggulan dan kapasitas uniknya demi mencapai tujuan bersama," jelas dia.

Simon menambahkan, selama lebih dari lima dekade ASCOPE menjadi wadah bagi institusi energi kawasan untuk bertukar pengetahuan, berbagi pengalaman, dan membangun kerja sama.

LEMIGAS Ingatkan Kualitas SDM Jadi Modal Utama

Kepala Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Ikhsan Kiat menilai keberlanjutan industri energi tidak cukup ditopang ketersediaan sumber daya alam dan infrastruktur. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan energi dan menghadapi perubahan di masa mendatang.

Menurut Ikhsan, di tengah ketegangan geopolitik dan persaingan global untuk memperoleh minyak, gas, teknologi, serta sumber daya strategis, kualitas manusia menentukan kemampuan suatu negara mengelola kekayaan energinya.

"Sumber daya terbesar suatu bangsa bukanlah yang berada di bawah tanah atau di dasar laut, melainkan yang ada di dalam diri manusianya. Inilah yang kita sebut sebagai human energy atau energi manusia," ujarnya.

Ikhsan mendorong ASCOPE memperluas peran kerja sama regional, bukan hanya menghubungkan infrastruktur dan pasar energi, tetapi juga mengembangkan kapabilitas tenaga kerja di sektor tersebut.

Apa Artinya bagi Pelaku Industri Energi

Bagi pelaku usaha, arah kolaborasi ini membuka peluang kemitraan lintas negara di sektor hulu migas, infrastruktur, hingga pengembangan SDM. Ketergantungan impor yang tinggi membuat diversifikasi sumber pasokan dan penguatan cadangan strategis menjadi prioritas kawasan.

Pertamina menutup rangkaian agenda dengan apresiasi kepada pemerintah, anggota ASCOPE, dan para mitra atas dukungan serta komitmen memperkuat kolaborasi energi regional.

Follow www.katajambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks