JAMBI — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 1,22% atau 66,164 poin ke level 5.373,09 pada Senin (26/10/2026), menghentikan penguatan empat hari sebelumnya. Tekanan jual meluas di hampir seluruh sektor seiring minimnya aliran modal asing masuk ke pasar saham domestik.
Pelemahan IHSG dipicu aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar. BBCA turun 1,69%, BYAN melemah 3,49%, MORA terkoreksi 6,79%, MDKA turun 5,94%, dan DSSA melemah 4,52%.
Tim riset PT Eastspring Investments Indonesia dalam laporan Spring Flash menyebut sentimen pasar domestik belum banyak berubah dibandingkan pekan lalu. Pelaku pasar masih mencermati implementasi reformasi pasar modal sebagai respons atas kekhawatiran MSCI.
Bayang-Bayang Status Standalone Market dari MSCI
Kekhawatiran utama adalah potensi penurunan klasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market oleh MSCI. Status ini bisa memicu arus keluar dana asing secara signifikan karena Indonesia akan dikeluarkan dari indeks acuan global.
Untuk merespons hal tersebut, Bursa Efek Indonesia menyiapkan sejumlah langkah perbaikan. Salah satunya mengganti mekanisme peringatan Unusual Market Activity dengan pengawasan berbasis investigasi yang lebih terarah.
Melalui mekanisme baru, BEI akan mengungkapkan hasil investigasi awal atas dugaan manipulasi saham. Informasi yang dibuka mencakup saham yang diperiksa, periode transaksi, jumlah pihak terlibat, hingga perusahaan sekuritas terkait.
BEI juga berwenang membatasi atau membekukan rekening efek tertentu selama proses investigasi berlangsung. Langkah ini dinilai lebih proaktif dibandingkan mekanisme UMA yang selama ini dianggap kurang memberikan efek jera.
Metodologi HSC Disempurnakan, Investor Independen Masuk Komite
Selain pengawasan transaksi, BEI berencana menyempurnakan metodologi High Shareholding Concentration. Komite yang sebelumnya hanya melibatkan Self-Regulatory Organizations akan diperluas dengan memasukkan pihak independen, termasuk perwakilan investor.
Perubahan ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi penilaian atas saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Efektivitas implementasi dan konsistensi penegakan aturan menjadi kunci pemulihan kepercayaan investor asing, termasuk MSCI.
Rupiah ke Rp18.135, Imbal Hasil SBN 10 Tahun Naik ke 7,49%
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Rupiah melemah untuk hari keempat berturut-turut seiring berlanjutnya arus keluar modal asing dan tingginya harga minyak global.
Hingga laporan disusun, rupiah terdepresiasi 0,30% terhadap dolar AS ke level Rp18.135 per dolar AS. Pasar obligasi pemerintah juga tertekan, tercermin dari kenaikan imbal hasil SBN di hampir seluruh tenor.
Imbal hasil SBN tenor 10 tahun meningkat 6,64 basis poin menjadi 7,49%. Kenaikan yield ini menandakan harga obligasi turun akibat aksi jual investor.
The Fed dan Harga Minyak Brent Jadi Penentu Arah Pasar
Volatilitas pasar diperkirakan berlanjut seiring terbatasnya katalis positif dari dalam negeri. Dari sisi global, perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga The Fed pada 29 Oktober.
Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan Fed Funds Rate di kisaran 3,75–4,00%. Harga minyak Brent yang masih tinggi di sekitar US$115 per barel turut membayangi sentimen pasar.
Eastspring Investments Indonesia menyarankan investor tetap memperhatikan prinsip diversifikasi. Keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan perkembangan kondisi pasar terkini.