Pemain Organ Tunggal di Blora Dikeroyok saat Tasyakuran, Polisi Selidiki Peran Tuan Rumah

Penulis: Syafruddin Amir  •  Sabtu, 13 Juni 2026 | 21:56:31 WIB
Pengeroyokan pemain organ tunggal terjadi saat tasyakuran di Blora, polisi masih menyelidiki.

JAMBI — Insiden berdarah itu terjadi di Dukuh Sukorame, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, sekitar pukul 23.00 WIB. Keributan dipicu oleh seorang tamu dalam kondisi mabuk yang naik ke panggung usai menyumbang lagu. Saat berjoget, ia menyenggol keyboard milik Asyik hingga hampir terjatuh.

"Dari awal kejadian itu keyboard saya kesenggol orang mabuk habis nyumbang lagu. Keyboard-nya hampir jatuh sampai miring. Langsung saya bilangin maksudnya suruh hati-hati," kata Asyik kepada Liputan6.com.

Kronologi Keributan: Senggolan Kecil Berujung Pengeroyokan

Setelah teguran itu, tuan rumah bernama Joni justru naik ke panggung dan terlibat cekcok dengan Asyik. Perselisihan mulut berubah menjadi aksi saling dorong yang direkam oleh salah satu penyanyi dan viral di media sosial. Dalam rekaman, terlihat beberapa orang ikut mengeroyok korban di atas panggung.

Polisi mencatat, konsumsi minuman keras oleh pihak penyelenggara bersama teman-temannya menjadi salah satu faktor pemicu. Sebelum keributan, acara hiburan berlangsung kondusif sejak pukul 20.00 WIB dengan sekitar 40 tamu.

Luka Korban dan Langkah Hukum

Akibat pengeroyokan, Asyik mengalami memar di atas alis mata, hidung berdarah, dan tiga titik luka di kepala bagian atas. Meski sempat dimediasi oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat, korban memilih menempuh jalur hukum.

"Tadi malam sudah langsung laporan dan melakukan visum. Harapannya saya sebagai korban, pelaku diberikan efek jera," tegas Asyik. Ia mendatangi SPKT Polsek Tunjungan pada malam yang sama untuk membuat pengaduan.

Polisi Masih Koordinasi, Komunitas Seniman Bergerak

Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, membenarkan pihaknya tengah mendalami kasus ini. "Ini baru cek mas, di lidik lokasi di wilayah Polsek Tunjungan," ujarnya. Saat ditanya soal penangkapan pelaku, ia mengaku masih berkoordinasi dengan Polsek Tunjungan.

Ia menambahkan, penyelenggara hajatan dapat dimintai keterangan terkait konsekuensi hukum jika tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. "Bisa dipanggil di Polsek Tunjungan untuk dimintai keterangan," tandasnya.

Kasus ini mendapat perhatian dari Sedulur Seniman Blora (SSB). Ketua SSB Budi Santosa telah menemui korban dan akan mengoordinasikan langkah organisasi dengan seluruh ketua komunitas seniman. "Korban sudah saya temui dan kita menunggu proses selanjutnya," ujar Budi. "Secepatnya juga kita akan koordinasi dengan semua ketua komunitas masing-masing," pungkasnya.

Reporter: Syafruddin Amir
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top