Adat Istiadat dan Tradisi Jambi yang Jarang Diketahui: 7 Warisan Budaya Asli

Penulis: Khairunas Ibrahim  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:53:31 WIB
Ritual Kenduri Seko digelar masyarakat Kerinci sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi sawah.

Provinsi Jambi sering hanya dikenal melalui Candi Muaro Jambi atau kuliner mie sagu. Padahal, di balik itu, masyarakat Jambi memiliki lapisan adat istiadat yang kompleks dan hidup turun-temurun. Beberapa tradisi bahkan tidak banyak diketahui oleh generasi muda sendiri, apalagi wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Praktik adat di Jambi bukan sekadar seremoni. Ia menyatu dengan sistem sosial, ekonomi, dan kepercayaan lokal. Dari ritual yang berkaitan dengan siklus hidup hingga tradisi gotong royong yang terlembaga, semuanya memiliki aturan main yang ketat dan makna mendalam. Berikut tujuh warisan budaya yang masih dijaga hingga kini.

1. Kenduri Seko: Ritual Panen yang Sakral

Kenduri Seko adalah upacara adat masyarakat Kerinci yang dilakukan setelah panen raya padi sawah. Ritual ini berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan seluruh warga desa. Tujuannya, mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta sekaligus memohon berkah untuk musim tanam berikutnya.

Uniknya, dalam prosesi ini ada pertunjukan seni tradisional seperti pencak silat dan tari-tarian. Masyarakat juga menyajikan makanan khas yang dimasak secara gotong royong. Bagi wisatawan, menyaksikan Kenduri Seko adalah pengalaman langka untuk melihat kehangatan komunal warga Kerinci yang masih sangat kental.

2. Tari Rangguk: Perpaduan Gerak dan Syair Islam

Berbeda dari tari Melayu pada umumnya, Tari Rangguk lahir dari pengaruh Islam yang kuat di daerah Muaro Jambi. Tarian ini awalnya merupakan media dakwah yang dikemas dalam bentuk seni gerak. Penarinya biasanya laki-laki dengan gerakan dinamis yang diiringi syair-syair pujian kepada Tuhan.

Yang menarik, musik pengiringnya menggunakan alat tradisional seperti gambus dan gendang. Tari Rangguk tidak sekadar hiburan, melainkan cerminan akulturasi budaya Melayu dengan nilai-nilai keagamaan yang berlangsung berabad-abad lalu.

3. Sistem Kekerabatan "Jalur" di Kerinci

Masyarakat Kerinci menganut sistem kekerabatan matrilineal yang unik, mirip dengan Minangkabau namun dengan istilah berbeda. Mereka menyebutnya "jalur". Garis keturunan ditarik dari pihak ibu, dan harta pusaka diwariskan kepada anak perempuan. Laki-laki dalam sistem ini berperan sebagai "anak dalam" yang mengurus urusan keluarga istri.

Sistem ini berdampak besar pada struktur kepemilikan tanah dan tata kelola rumah tangga. Bagi perantau yang pulang kampung, memahami sistem ini penting agar tidak salah langkah dalam berinteraksi sosial dengan warga setempat.

4. Upacara "Tepung Tawar" untuk Ritual Kehidupan

Tepung tawar adalah tradisi yang dilakukan dalam berbagai acara penting: kelahiran, perkawinan, hingga penyambutan tamu kehormatan. Prosesinya melibatkan beras kunyit, tepung beras, dan air bunga yang ditaburkan ke tangan atau kepala orang yang dihormati. Gerakan ini melambangkan doa keselamatan dan penolak bala.

Di beberapa desa di Batanghari, tepung tawar juga dilakukan saat memulai pembangunan rumah baru. Ritual ini diyakini menjaga penghuni dari marabahaya. Meski zaman berubah, praktik ini masih bertahan karena dianggap sebagai perekat hubungan sosial antarwarga.

5. Tradisi "Bedendang" dalam Prosesi Pernikahan

Bedendang adalah seni bertutur dengan irama tertentu yang dilakukan saat acara adat, terutama pernikahan. Biasanya dibawakan oleh dua orang yang saling berbalas pantun atau nasihat. Isinya tidak pernah lepas dari pesan moral, petuah kehidupan, dan doa untuk kedua mempelai.

Seni ini berbeda dengan "berbalas pantun" biasa karena membutuhkan kemampuan vokal dan improvisasi yang mumpuni. Di era digital, regenerasi seniman bedendang menjadi tantangan tersendiri. Namun, beberapa sanggar budaya di Kota Jambi masih aktif melatih generasi muda untuk melestarikannya.

6. "Ambung" dan Filosofi Gotong Royong

Ambung adalah lumbung padi tradisional khas Jambi yang berbentuk panggung. Fungsinya menyimpan hasil panen untuk persediaan jangka panjang. Namun, ambung bukan sekadar gudang. Keberadaannya menjadi simbol ketahanan pangan dan gotong royong masyarakat agraris Jambi.

Dalam praktiknya, jika satu keluarga kekurangan beras, tetangga boleh meminjam dari ambung dengan kesepakatan adat. Sistem ini menjaga tidak ada warga yang kelaparan di musim paceklik. Konsep ini relevan dengan gerakan ketahanan pangan yang kini digalakkan pemerintah.

7. Ritual "Betandang" di Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam (SAD), atau yang dikenal sebagai Orang Rimba, memiliki tradisi betandang: mengunjungi kampung lain dalam kelompok mereka. Ritual ini diiringi pembacaan mantra dan tarian khas untuk meminta izin kepada roh penjaga hutan. Mereka percaya, setiap perpindahan tempat tinggal harus dilakukan dengan cara yang benar agar terhindar dari bencana.

Tradisi ini semakin jarang dilakukan karena menyusutnya wilayah hutan di Jambi. Namun, beberapa komunitas SAD yang kini menetap di sekitar Taman Nasional Bukit Dua Belas masih menjaga warisan ini dalam bentuk yang lebih sederhana.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah tradisi Kenduri Seko masih dilakukan setiap tahun?
Ya, masyarakat Kerinci masih melakukannya, terutama di desa-desa yang jauh dari perkotaan. Waktunya bervariasi tergantung musim panen, biasanya antara Februari hingga April. Sebaiknya cek informasi dari warga lokal sebelum berkunjung.

Di mana wisatawan bisa melihat Tari Rangguk?
Pertunjukan sering digelar di acara festival budaya Kota Jambi atau di desa-desa sekitar Muaro Jambi. Tidak ada jadwal tetap, jadi pantau akun media sosial Dinas Kebudayaan Provinsi Jambi untuk informasi terbaru.

Apakah sistem kekerabatan "jalur" masih dipraktikkan secara ketat?
Di pedalaman Kerinci, ya. Namun di perkotaan, sistem ini mulai luntur karena mobilitas penduduk dan pengaruh ekonomi modern. Meski begitu, pembagian harta pusaka di desa adat tertentu masih mengikuti aturan ini.

Bagaimana cara menghormati adat Suku Anak Dalam saat berkunjung?
Jangan menyentuh kepala mereka, hindari bertanya tentang hal-hal mistis, dan selalu minta izin sebelum mengambil foto. Bawa oleh-oleh makanan ringan sebagai tanda hormat jika diizinkan masuk ke perkampungan mereka.

Apa perbedaan tepung tawar di Jambi dengan daerah lain?
Di Jambi, tepung tawar sering dikombinasikan dengan doa yang dibacakan dalam bahasa Melayu setempat. Bahan bakunya pun khas: menggunakan beras kunyit dan daun setawar yang diambil dari halaman rumah.

Adat istiadat Jambi bukan artefak mati yang hanya dipajang di museum. Ia hidup dalam keseharian masyarakat, dari cara mereka bercocok tanam hingga merayakan momen sakral. Memahami tradisi ini adalah cara terbaik untuk benar-benar mengenal jiwa Jambi, bukan sekadar singgah di permukaannya. Bagi perantau atau wisatawan, menghargai adat setempat adalah kunci membangun hubungan baik dengan warga lokal yang ramah dan terbuka.

Reporter: Khairunas Ibrahim
Back to top