Uji Benchmark Microsoft Ungkap Aturan WebKit Bikin Browser di iOS Kehilangan Performa Hingga 28,6 Persen

Penulis: Khairunas Ibrahim  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 01:39:31 WIB
Hasil benchmark Microsoft menunjukkan browser iOS kehilangan performa hingga 28,6 persen akibat aturan WebKit Apple.

Insinyur Microsoft mempublikasikan hasil benchmark yang menohok kebijakan Apple. Tim Edge memanfaatkan framework BrowserEngineKit untuk membangun prototipe browser berbasis mesin Blink milik Chromium. Hasilnya? Skor prototipe pada tes kecepatan Speedometer 3.1—milik Apple sendiri—mencapai 49,27, sementara Safari di iOS 26.5.1 hanya meraih 38,3. Selisihnya 28,6 persen.

Skor Lebih Tinggi di Tiga Tolok Ukur Berbeda

Kyle Pflug, group product manager untuk Microsoft Edge Web Platform, mengumumkan temuan ini pada Senin lalu. Ia menegaskan angka-angka ini masih bersifat preliminer, berasal dari pengujian perangkat pribadi, bukan laboratorium terkontrol.

Selain Speedometer, prototipe Edge berbasis Blink unggul di dua tes lainnya. Di JetStream 3, tolok ukur performa JavaScript, prototipe Microsoft mencetak 306,35—lebih tinggi 13,1 persen dari Safari yang hanya 270,9. Sementara di MotionMark 1.3.1, pengujian rendering grafis, skor prototipe adalah 4.773,52, unggul tipis 2,1 persen dari Safari (4.673,68).

Kebijakan WebKit: Perlindungan atau Penghambat Inovasi?

Selama ini, Apple mewajibkan semua browser di iOS menggunakan WebKit, mesin yang sama yang menggerakkan Safari. Akibatnya, Chrome, Firefox, atau Edge di iPhone sejatinya hanyalah antarmuka yang dibungkus di atas Safari. Kondisi ini berlangsung sejak iPhone pertama dirilis 17 tahun lalu.

Uni Eropa berusaha mengubah aturan ini melalui Digital Markets Act (DMA) pada Maret 2024. Regulasi tersebut mewajibkan Apple menyediakan akses ke mesin browser alternatif lewat BrowserEngineKit. Namun, lebih dari dua tahun berlalu, belum ada satu pun pengembang browser yang merilis versi alternatif tersebut.

Apa yang Menghambat Pengembang?

Open Web Advocacy, kelompok advokasi web terbuka, menilai hasil benchmark ini sebagai bukti nyata kerugian konsumen selama hampir dua dekade. Mereka mendesak Komisi Eropa membuka prosiding spesifikasi yang secara gamblang memerintahkan Apple menghapus hambatan teknis terhadap mesin browser alternatif.

“Membatasi mesin browser memungkinkan Apple mengendalikan kemampuan web mobile dan membuat bisnis tetap bergantung pada aplikasi native serta aturan App Store,” demikian pernyataan Open Web Advocacy kepada The Register.

Dari sisi teknis, para pengembang mengeluhkan dua hambatan utama. Pertama, integrasi dengan BrowserEngineKit dinilai rumit dan penuh kendala. Kedua, Apple mewajibkan setiap browser dengan mesin alternatif diterbitkan sebagai aplikasi yang benar-benar terpisah dari versi WebKit mereka—artinya, pengguna harus mengunduh aplikasi baru jika ingin beralih mesin.

Dampak bagi Pengguna di Indonesia

Meski aturan DMA hanya berlaku di Uni Eropa, dampak kebijakan ini bersifat global. Apple dikenal enggan menerapkan kebijakan berbeda di tiap wilayah. Jika regulator Eropa berhasil memaksa Apple membuka akses mesin browser, bukan tidak mungkin perubahan serupa merambah ke pasar Asia, termasuk Indonesia.

Bagi pengguna iPhone di Indonesia, kabar ini berarti potensi peningkatan kecepatan browsing yang signifikan. Bayangkan, aplikasi seperti Chrome atau Edge bisa berjalan dengan performa hingga 28 persen lebih kencang dari Safari—tanpa perlu mengganti perangkat.

Pflug sendiri mengingatkan bahwa prototipe ini masih berupa riset, bukan produk jadi. Namun, angka-angka ini jelas menunjukkan satu hal: ponsel Apple sebenarnya punya potensi jauh lebih besar untuk menjelajah web. Yang hilang selama ini hanyalah izin dari pembuatnya.

Reporter: Khairunas Ibrahim
Sumber: macrumors.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top