Pencarian

Nathan Chen, Peneliti AI 17 Tahun, Umumkan Hengkang dari Moonshot AI

Senin, 26 Oktober 2026 • 13:22:01 WIB
Nathan Chen, Peneliti AI 17 Tahun, Umumkan Hengkang dari Moonshot AI
Nathan Chen mengumumkan hengkang dari Moonshot AI melalui media sosial pada 15 Oktober.

JAMBI — Nathan Chen, peneliti AI berusia 17 tahun yang turut mengembangkan model Kimi K3, mengumumkan hengkang dari startup Moonshot AI pada 15 Oktober melalui media sosial. Kepergiannya terjadi beberapa bulan setelah Kimi K3 dirilis dan disebut mampu menyaingi model AI terkemuka Amerika Serikat dengan biaya jauh lebih rendah. Langkah Chen memicu spekulasi soal masa depannya, termasuk ketertarikan peneliti Anthropic yang mengundangnya ke San Francisco.

Chen bergabung dengan Moonshot AI saat masih berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA. Ia masuk ke tim peneliti Kimi dan membantu mengembangkan teknologi yang membuat model AI perusahaan berbasis di Beijing itu lebih cepat serta efisien.

Selama kurang dari setahun bekerja, Chen berkontribusi pada inovasi utama AI Moonshot. Penelitiannya mendapat pujian dari Elon Musk dan mantan peneliti OpenAI, Andrej Karpathy.

Kontribusi di Balik Kimi K3

Pada Maret tahun ini, Chen menjadi salah satu dari tiga penulis yang berkontribusi sama besar dalam makalah penelitian berjudul Attention Residuals. Ia menulisnya bersama peneliti senior Su Jianlin dan Zhang Yu.

Karya tersebut memperkenalkan teknik untuk meningkatkan cara model AI memproses informasi. Teknik itu kemudian diterapkan ke Kimi K3 milik Moonshot dan menarik perhatian internasional.

Kimi K3 sendiri dirilis beberapa bulan sebelum kepergian Chen. Model ini disebut membuat Silicon Valley heboh karena mampu bersaing dengan sistem AI terkemuka Amerika Serikat dengan biaya pengembangan jauh lebih rendah.

Jalur Tidak Biasa Menuju Industri AI

Lahir tahun 2009 di Shenzhen, Chen menempuh jalur yang tidak lazim untuk masuk industri AI. Ia tidak punya medali kompetisi atau kualifikasi universitas yang sering dikaitkan dengan ilmuwan muda.

Ia mulai mengeksplorasi AI pada 2024 saat masih SMA. Chen belajar secara autodidak melalui makalah penelitian dan memakai chatbot Gemini dari Google untuk memahami konsep-konsep rumit.

Mei 2025, ia menerbitkan blog yang menjelaskan teknik AI. Tulisan itu menarik perhatian Yang Songlin, peneliti yang saat itu mengejar gelar doktor di Massachusetts Institute of Technology, sekaligus kepala Tilde Research, startup AI asal Amerika Serikat.

Dua bulan kemudian, Chen bepergian sendirian ke Palo Alto, California, untuk magang tujuh minggu di Tilde Research. Ia bekerja bersama peneliti AI berpengalaman dan kadang menghabiskan hingga 15 jam sehari di kantor.

Sekembalinya ke China, Chen awalnya berharap melanjutkan tahun terakhirnya di SMA. Ia malah ditawari bergabung dengan Moonshot AI.

Respons Peneliti AS dan Spekulasi Langkah Berikutnya

Pengumuman kepergian Chen memicu spekulasi soal langkah selanjutnya. Peneliti dari perusahaan AI Amerika Serikat, termasuk Anthropic, disebut berminat menemuinya.

Sholto Douglas, peneliti Anthropic, menanyakan apakah Chen masih berencana kuliah di Carnegie Mellon University. Ia juga mengundang Chen ke San Francisco untuk bertemu peneliti lain.

Chen mengonfirmasi di X bahwa ia berencana bepergian ke San Francisco. Ketika netizen bertanya apakah ia akan bergabung dengan Anthropic, Chen menjawab tidak dan menepis spekulasi tersebut.

Hingga kini, Chen belum mengonfirmasi apakah ia akan melanjutkan studi ke jenjang universitas atau terus bekerja di bidang penelitian AI. Ia lulus dari SMA pada Juni lalu.

Menolak Label Jenius

Meski mendapat pengakuan internasional, Chen menolak disebut jenius. Dalam wawancara dengan China Newsweek, ia mengimbau orang-orang tidak mengidolakannya dan menekankan bahwa penelitian tersebut adalah hasil kerja tim.

Rekan kerja di Moonshot, Du Yulun, mengaku menyayangkan keputusan Chen. Meski begitu, ia mendukung keinginan Chen mengeksplorasi peluang baru selagi muda.

Chen bukan remaja ajaib AI China pertama yang menarik perhatian internasional. Tu Jinhao, mantan pemagang DeepSeek, ikut menulis penelitian tentang model AI R1 saat masih SMA di Shanghai. Ia memulai studi sarjana di University of Wisconsin-Madison pada September 2025.

Kepergian Chen dari Moonshot terjadi di tengah persaingan sengit perusahaan teknologi China dan Amerika Serikat dalam memperebutkan talenta AI. Perekrutan peneliti muda lintas negara kini menjadi bagian dari strategi industri AI global, termasuk di pasar Asia Tenggara yang mulai membangun ekosistem riset kecerdasan buatan sendiri.

Follow www.katajambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks