JAMBI — Telkomsel mencatat trafik seluler saat sahur melonjak 77 persen pada awal Ramadan dan konsumsi konten religi naik 63 persen, berdasarkan laporan Ramadan Insight 2027 yang dirilis melalui solusi DigiAds. Temuan ini memetakan tiga fase perubahan perilaku konsumen selama Ramadan, dari adaptasi rutinitas hingga persiapan mudik. Bagi pelaku usaha, data tersebut menjadi panduan menempatkan kampanye pada momen yang tepat.
Laporan Ramadan Insight 2027: Reading the Rhythms of Ramadan disusun Telkomsel Enterprise dari analisis data telekomunikasi yang diolah secara agregat dan dianonimkan. Hasilnya membagi perilaku konsumen ke dalam tiga fase: sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, dan sepuluh hari terakhir Ramadan.
Pembagian fase itu memungkinkan pelaku usaha melihat kapan kebutuhan konsumen bergeser, bukan sekadar menebak momen ramai. Bagi masyarakat, laporan ini menggambarkan bagaimana rutinitas harian berubah selama bulan puasa.
Sepuluh hari pertama menjadi fase adaptasi. Trafik seluler saat sahur tercatat naik 77 persen dibandingkan hari biasa, sementara trafik layanan video dan streaming tumbuh 38 persen.
Konsumsi konten religi ikut meningkat 63 persen. Ponsel berubah jadi alat utama untuk mencari inspirasi menu sahur, menonton video, atau mengakses ceramah di sela rutinitas.
Bagi brand, pesan yang menyambung dengan aktivitas sahur berpeluang lebih mudah menarik perhatian ketimbang iklan yang tidak nyambung dengan konteks.
Memasuki sepuluh hari kedua, perhatian konsumen bergeser ke kebutuhan sosial dan persiapan Idulfitri. Penggunaan aplikasi transportasi naik 58 persen, aplikasi kebutuhan sehari-hari dan ritel tumbuh 32 persen, dan kunjungan ke pusat perbelanjaan naik 19 persen.
Temuan yang paling relevan bagi peritel: 88 persen konsumen yang berbelanja kebutuhan Ramadan tetap memilih datang langsung ke toko fisik. Artinya, belanja tidak sepenuhnya pindah ke kanal digital.
Konsumen bisa mencari informasi lewat ponsel, lalu tetap mendatangi gerai untuk melihat dan membeli barang. Promosi digital dan pengalaman belanja di toko perlu saling menopang, bukan bersaing.
Pada sepuluh hari terakhir, kebutuhan perjalanan dan waktu bersama keluarga menguat. Akses ke aplikasi perjalanan meningkat 32 persen.
Sebanyak 73 persen pemudik tercatat singgah di rest area untuk beristirahat, beribadah, dan makan. Kebutuhan menjelang Lebaran tak berhenti di tiket atau transportasi, tetapi mencakup tempat istirahat dan konsumsi selama perjalanan.
Pelaku usaha di jalur mudik bisa memanfaatkan momen ini untuk menawarkan informasi yang sesuai kebutuhan orang yang sedang bepergian, bukan menayangkan iklan berulang tanpa konteks.
VP Corporate Innovation, Sustainability, Marketing, and Digital Advertising Telkomsel, Mia Melinda, menilai pemahaman atas perubahan perilaku konsumen jadi kunci penyusunan kampanye Ramadan.
"Brand yang menang di Ramadan bukan yang paling lantang, melainkan yang paling memahami ritme konsumennya. Kebutuhan konsumen pada awal Ramadan sangat berbeda dengan kebutuhan mereka menjelang Idulfitri," ujar Mia.
Melalui DigiAds, Telkomsel Enterprise menawarkan pesan kontekstual, komunikasi berbasis lokasi, integrasi brand dalam tayangan spesial Ramadan di MAXStream, serta penempatan pesan di titik perjalanan mudik. Satu penerapan Contextual Messaging pada momen relevan tercatat meningkatkan rasio klik hingga 2,6 kali lipat.
"Dengan insight yang kuat dan eksekusi yang tepat, brand dapat hadir bukan sebagai distraksi, tetapi sebagai bagian yang relevan dari perjalanan konsumen. Inilah wujud Telkomsel Melayani Sepenuh Hati, dengan membantu bisnis tumbuh sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tutup Mia.
Laporan ini menegaskan satu hal: Ramadan bukan satu momen seragam, melainkan rangkaian fase dengan kebutuhan berbeda. Bagi Telkomsel, pemetaan ritme konsumen itu sekaligus menjadi alat jual bagi lini bisnis periklanan digitalnya di tengah persaingan platform iklan yang makin ketat.