TANJUNG JABUNG BARAT — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan prevalensi penduduk yang mengalami kekurangan asupan energi di Tanjung Jabung Barat mencapai 13,33 persen pada tahun ini. Meski turun tipis 0,57 poin persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 13,9 persen, angka tersebut masih menjadi yang paling tinggi di Provinsi Jambi.
Wilayah dengan Prevalensi Pangan Terendah di Jambi
Berdasarkan data BPS, Kabupaten Muaro Jambi mencatatkan angka PoU terendah di Jambi, yaitu 8,04%. Disusul Kabupaten Bungo (8,16%) dan Kota Jambi (9,14%). Artinya, ketimpangan kondisi ketahanan pangan antar daerah di Jambi masih cukup lebar. Berikut daftar lengkap prevalensi ketidakcukupan pangan di 10 kabupaten/kota se-Jambi pada 2025:
- Kabupaten Muaro Jambi: 8,04%
- Kabupaten Bungo: 8,16%
- Kota Jambi: 9,14%
- Kabupaten Sarolangun: 9,7%
- Kabupaten Merangin: 10,02%
- Kabupaten Tebo: 10,21%
- Kabupaten Batang Hari: 11,14%
- Kabupaten Tanjung Jabung Timur: 11,85%
- Kabupaten Kerinci: 12,15%
- Kota Sungai Penuh: 12,81%
Apa Itu Prevalensi Ketidakcukupan Pangan?
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU adalah indikator yang mengukur proporsi penduduk yang secara rutin mengonsumsi makanan dalam jumlah yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi bagi hidup normal, aktif, dan sehat. Indikator ini digunakan untuk melihat kondisi kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah. Dengan kata lain, di Tanjab Barat, masih terdapat warga yang sudah makan tetapi asupan energinya belum mencukupi standar minimal.
Lima Tahun Terakhir, Angkanya Justru Naik
Meski secara tahunan terjadi penurunan, tren dalam setengah dekade terakhir menunjukkan arah yang sebaliknya. PoU Tanjab Barat tercatat naik 2,59 poin persen dalam lima tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan akses dan keterjangkauan pangan di daerah pesisir timur Jambi tersebut masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah.