JAKARTA — Rencana pembangunan rel kereta khusus batu bara di Jambi akhirnya memasuki tahap perancangan koridor. Jalur ini direncanakan membentang dari kawasan hulu produksi di Kabupaten Bungo, melewati Bangko dan Sarolangun, menuju Batang Hari, Muaro Jambi, hingga berakhir di Pelabuhan Kemingking sebagai pintu ekspor utama provinsi.
Koridor Hulu-Hilir untuk Mengalihkan Truk Tambang
Berdasarkan matriks pengembangan yang disusun, wilayah Bungo akan berfungsi sebagai pusat pengumpulan batu bara dari kawasan produksi barat. Koridor Bungo–Bangko menjadi penghubung sumber muatan, sementara Sarolangun dipersiapkan sebagai simpul utama konsolidasi angkutan melalui pembangunan loading station dan akses khusus.
Selanjutnya, koridor Sarolangun–Batang Hari dirancang sebagai jalur distribusi utama menuju hilir. Di Muaro Jambi akan dikembangkan kawasan logistik resmi dan dry port sebelum seluruh angkutan diarahkan ke Pelabuhan Kemingking yang terintegrasi dengan stockpile, konveyor, dan dermaga ekspor.
Wakil Ketua DPRD: Bukan Sekadar Proyek Tambang
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, menegaskan bahwa pembangunan rel khusus ini tidak boleh dipandang semata sebagai proyek transportasi komoditas. Menurutnya, tujuan utamanya adalah menyelesaikan persoalan kronis yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
"Kereta api khusus batu bara harus menjadi solusi permanen. Tujuannya bukan sekadar mempercepat distribusi komoditas, tetapi mengurangi kemacetan, menekan kerusakan jalan, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, dan menciptakan sistem logistik yang lebih tertata," ujar Ivan, Senin (22/6).
Ia mendorong pemerintah daerah, pusat, investor, dan pelaku usaha untuk mempercepat berbagai tahapan pembangunan. Mulai dari finalisasi trase, studi kelayakan (FS), penyusunan AMDAL, penetapan lokasi, pembebasan lahan, hingga kepastian skema pembiayaan.
MTI Pusat: Kebutuhan Ini Sudah Muncul Sejak 2017
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Muhammadun, mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan rel khusus ini sebenarnya sudah lama dibahas. Ia menyebut kajian koridor Muaro Bungo, Sarolangun, Batang Hari hingga pesisir Jambi sudah dilakukan sejak 2017–2018.
"Persoalan yang muncul waktu itu sama seperti sekarang, yakni kemacetan dan kerusakan jalan akibat angkutan batu bara," ungkap Muhammadun melalui panggilan WhatsApp.
Menurutnya, keterlambatan realisasi proyek ini menyebabkan persoalan transportasi di Jambi terus berulang dari tahun ke tahun. "Kalau sejak dulu ini dijalankan, mungkin kondisi jalan kita tidak separah sekarang. Ini solusi yang sangat solutif," katanya.
Dampak Ekonomi: Biaya Logistik Turun, Investasi Masuk
Ivan Wirata menambahkan, manfaat strategis pembangunan rel ini sangat besar. Selain mengurangi kemacetan truk batu bara di jalan umum, proyek tersebut akan menekan tingkat kerusakan jalan, menurunkan biaya logistik, serta membuka koridor ekonomi baru dari wilayah barat hingga timur Jambi.
"Jambi harus bergerak dari pola angkutan berbasis truk menuju sistem logistik massal yang modern. Dengan rel yang terhubung langsung ke pelabuhan, biaya distribusi akan lebih kompetitif dan daya saing ekonomi daerah meningkat," tegas politisi Golkar itu.
Muhammadun menambahkan, jika distribusi lancar dan biaya logistik turun, investasi akan masuk dan pertumbuhan ekonomi Jambi meningkat. Daerah-daerah yang selama ini hanya menjadi lintasan justru bisa tumbuh menjadi pusat ekonomi baru.