JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan berubah hingga akhir tahun. "Tidak akan naik. Insyaallah, ya, doanya, tidak akan kita naikkan," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, baru-baru ini.
Lonjakan ICP April 2026 dan Dua Pemicu Utama
Meski Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 melompat signifikan—dari 102,26 dolar AS per barel pada Maret menjadi 117,31 dolar AS per barel—pemerintah tidak serta-merta menaikkan harga BBM subsidi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut dua faktor utama di balik lonjakan itu: ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, dan pertumbuhan ekonomi China yang mencapai 5 persen secara tahunan pada kuartal I-2026.
Rata-rata ICP Masih di Bawah Ambang Batas
Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi didasarkan pada perhitungan akumulatif. Menurut Bahlil, rata-rata ICP sejak Januari hingga Mei 2026 masih bertengger di kisaran 80–81 dolar AS per barel. Angka itu dinilai aman karena belum menembus 100 dolar AS per barel. "Insyaallah sampai akhir tahun," tambah Bahlil.
Proyeksi Penahan Harga Minyak ke Depan
Pemerintah melihat ada faktor yang bisa meredam harga minyak ke depan. Ekspektasi penurunan permintaan minyak mentah dunia pada triwulan II-2026 sebesar 5 juta barel per hari secara tahunan, serta sinyal positif dari jalur diplomasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, disebut-sebut sebagai faktor penahan yang potensial. Meski tren global masih penuh ketidakpastian, pemerintah optimistis tarif BBM subsidi tidak akan mengusik dompet masyarakat dalam waktu dekat.