Laporan JG Wentworth terbaru menunjukkan 86 persen jomblo memilih menunda mencari pasangan karena tekanan ekonomi dan biaya kencan yang melonjak. Fenomena "date-flation" ini diprediksi membuat aktivitas kencan menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati kalangan ekonomi atas pada 2026.
Aplikasi kencan seperti Tinder atau Bumble kini menghadapi masalah baru yang lebih fundamental daripada sekadar algoritma "pay-to-win". Laporan terbaru dari firma layanan keuangan JG Wentworth mengungkapkan bahwa 86 persen jomblo memilih menunda mencari pasangan karena masalah finansial yang kian menghimpit.
Kondisi ini diperburuk oleh kenaikan biaya hidup yang tidak sebanding dengan pendapatan rata-rata. Data BMO Real Financial Progress Index memproyeksikan biaya kencan rata-rata akan melonjak 12,5 persen menjadi US$189 atau sekitar Rp3 juta per malam pada tahun 2026. Angka ini melampaui laju inflasi biaya hidup standar, membuat kencan menjadi beban anggaran yang berat bagi kelas pekerja.
Dampak Date-flation dan Jurang Ekonomi
Kesenjangan finansial menciptakan pemisah yang jelas antara siapa yang mampu berkencan dan siapa yang terpaksa "pensiun" dini dari pencarian cinta. Riset dari Louis Jadot dan Morning Consult menunjukkan data yang kontras berdasarkan tingkat pendapatan pengguna.
- Pendapatan di bawah US$50.000: 33 persen responden memilih berhenti berkencan sepenuhnya.
- Pendapatan di atas US$100.000: Hanya 15 persen yang memutuskan untuk berhenti mencari pasangan.
- Biaya rata-rata kencan 2026: Diprediksi mencapai Rp3 juta (US$189) per pertemuan.
- Kenaikan biaya: 12,5 persen per tahun, melampaui inflasi umum.
"Koneksi bukan lagi sesuatu yang dikejar secara spontan; itu adalah sesuatu yang harus dianggarkan, dibenarkan, dan terkadang diabaikan sama sekali," ujar Farnoosh Torabi, analis keuangan dan host podcast So Money. Kondisi ini membuat kencan menjadi lebih eksklusif dan tidak setara.
Tren Media Sosial dan Fenomena Sugar Dating
Tekanan ekonomi ini mulai menyaring narasi di media sosial seperti TikTok. Pengguna seperti @eddieeye71 mengaku telah berhenti berkencan selama 18 bulan demi mengontrol finansialnya. Sementara itu, pengguna lain mengeluhkan biaya bensin dan makan yang bisa menghabiskan Rp1,5 juta hanya dalam satu malam.
Kondisi terjepit secara ekonomi juga memicu popularitas situs kencan mewah seperti Seeking. Platform ini sempat menjadi sorotan setelah Julia Varvaro, pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, terseret skandal terkait profilnya di situs tersebut. Mantan pasangannya mengklaim telah menghabiskan US$40.000 atau sekitar Rp640 juta untuk hadiah mewah seperti perhiasan Cartier dan tas Bottega selama tiga bulan hubungan mereka.
Brandon Wade, co-CEO Seeking, menyatakan secara blak-blakan bahwa seseorang sebaiknya tidak berkencan jika tidak memiliki keamanan finansial. Menurutnya, cinta yang diberikan dari kondisi kekurangan hanya akan menciptakan ketidakstabilan dalam hubungan.
Apa Artinya bagi Jomblo di Indonesia?
Meski riset ini berbasis di Amerika Serikat, gejalanya mulai terasa di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta. Kenaikan harga pangan (inflasi gaya hidup) dan tren "ngopi" di kafe estetik membuat biaya sekali kencan bagi Gen Z dan Milenial lokal kian membengkak. Pengguna aplikasi kencan di Indonesia kini harus lebih selektif dalam memilih lokasi pertemuan agar tidak mengganggu stabilitas dompet bulanan.
Pasar lokal juga menunjukkan pergeseran ke arah kencan yang lebih "intentional" atau bertujuan jelas. Alih-alih melakukan swipe tanpa henti, banyak orang mulai beralih ke acara kencan tatap muka (offline) yang meski berbayar, dianggap lebih efektif secara biaya dan waktu dibandingkan kencan acak yang seringkali berakhir tanpa hasil.
Fenomena kencan sebagai "permainan orang kaya" ini diprediksi akan terus menguat sepanjang 2025 hingga 2026. Selama stabilitas ekonomi global belum pulih, romansa kemungkinan besar akan tetap menjadi komoditas mewah yang memerlukan perencanaan finansial matang.