JAMBI — Bagi warga yang ingin menghadirkan camilan pasar ke meja rumah, awug-awug mutiara bisa jadi pilihan. Kudapan ini memakai sagu mutiara sebagai bahan utama, bukan tepung beras seperti kue tradisional lain. Warna merah mudanya berasal dari sagu mutiara yang telah direbus atau direndam hingga mengembang.
Kunci teksturnya ada pada perbandingan bahan. Seratus gram sagu mutiara dipadukan dengan 150 gram kelapa parut, lalu diberi 75 gram gula pasir, setengah sendok teh garam, dan setengah sendok teh vanili bubuk. Kelapa sebaiknya dipilih yang agak muda dan diparut memanjang agar hasilnya tidak terlalu kering.
Daun pisang tidak bisa langsung dipakai membungkus. Layukan dulu di atas api sebentar supaya lentur dan tidak robek saat dilipat. Setelah itu, campur sagu mutiara, kelapa parut, gula, garam, dan vanili dalam satu wadah hingga rata.
Bungkus adonan dengan daun pisang sesuai selera, lalu kukus hingga matang. Aroma vanili dan kelapa akan keluar saat proses pengukusan berlangsung. Sajikan awug-awug selagi hangat agar tekstur kenyalnya masih terasa.
Jajanan basah tradisional seperti awug-awug bertahan karena rasanya sulit digantikan camilan pabrikan. Perpaduan gurih kelapa dan manis gula memberi rasa yang tidak berlebihan. Di banyak daerah, kue ini masih dijajakan di pasar pagi bersama lupis, klepon, dan getuk.
Membuatnya sendiri di rumah juga lebih hemat. Bahan-bahannya mudah ditemukan di pasar dekat rumah, dan tak perlu oven atau mixer. Cukup kukusan dan daun pisang sebagai pembungkus.