JAMBI — Pesan itu disampaikan James dalam forum KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta. Ia menilai Indonesia masih gagap mengubah keindahan alam menjadi aliran belanja wisatawan yang berdampak luas.
"Dari segi aset mentah pariwisata, sangat sedikit negara yang mampu menandingi kita," kata James, dikutip dari keterangan resmi KADIN.
James membeberkan alur yang menurutnya belum tersambung utuh. Pertanyaannya bukan lagi soal menambah destinasi baru, melainkan bagaimana setiap mata rantai menghasilkan nilai ekonomi.
"Bagaimana kita mengkonversi keindahan alam menjadi aksesibilitas? Aksesibilitas menjadi pengalaman? Pengalaman menjadi pembelanjaan? Pembelanjaan menjadi investasi? Dan investasi menjadi kemakmuran? Bagi saya, itulah pertanyaan utamanya," ujarnya.
Ia menyoroti sejumlah simpul yang masih lemah: industri penerbangan yang mahal dan terbatas, transportasi publik yang semrawut, hingga hal paling dasar seperti kebersihan, konektivitas, dan promosi digital yang konsisten.
"Harus diakui banyak negara lain yang jauh lebih efektif dalam membangun ekosistem pendukung di sekitar aset tersebut," kata James.
Ironi yang diangkat James cukup telak. Sejumlah negara dengan modal wisata jauh di bawah Indonesia dinilai lebih efektif mengubah kunjungan menjadi devisa. Kuncinya bukan pada pantai atau gunung, melainkan pada ekosistem yang dibangun di sekelilingnya.
Tanpa pembenahan itu, destinasi unggulan berisiko berhenti sebagai pemandangan indah di layar ponsel. Wisatawan datang, memotret, lalu pulang tanpa meninggalkan belanja yang berarti.
Contoh yang paling nyata justru datang bukan dari kampanye pariwisata resmi. James menunjuk gelombang wisatawan Malaysia dan Asia Tenggara yang membanjiri Jakarta belakangan ini.
Mereka datang untuk wisata urban, berburu kuliner Blok M, belanja di mal, dan menjajal Kereta Cepat Whoosh ke Bandung sebagai pengalaman gaya hidup. Pemicunya media sosial, bukan baliho.
"Sebagian besar dari tren ini tidak digerakkan oleh kampanye pariwisata tradisional, melainkan oleh media sosial seperti TikTok dan Instagram," ungkap James.
Fenomena itu, menurutnya, membuktikan produk wisata Indonesia sudah kuat. Yang tertinggal adalah kemasan dan ekosistem pendukungnya.
James menempatkan pariwisata sebagai sektor paling demokratis. Dampak belanja satu wisatawan mengalir ke sopir taksi, pedagang kuliner, perajin batik, sampai pemilik warung kopi.
Artinya, bila ekosistemnya dibenahi, pariwisata bisa menjadi mesin pemerataan yang bergerak lebih cepat dibanding sektor padat modal lain.
"Peluang terbesar Indonesia bukan menciptakan lebih banyak objek wisata, melainkan memperbesar nilai ekonomi dari wisatawan yang sudah datang dan membuka alasan bagi lebih banyak wisatawan untuk datang serta tinggal lebih lama," pungkasnya.
Pekerjaan rumahnya jelas: mempermudah kedatangan, memperpanjang masa tinggal, dan memperbesar belanja. Tanpa itu, Indonesia berisiko terus menjadi negara dengan etalase pariwisata termewah, tapi laci kasir paling sepi.