JAMBI — Generasi teranyar Pajero kini resmi meluncur di Australia, menandai langkah pertamanya mendekati pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pengumuman ini penting karena Australia kerap menjadi patokan peluncuran untuk produk Mitsubishi di kawasan kita, mengingat spesifikasi dan varian yang ditawarkan biasanya identik dengan yang masuk pasar Indonesia.
Dari bocoran yang beredar, New Pajero membawa perubahan paling signifikan pada bagian interior dan teknologi. Namun pertanyaan besarnya: apakah perubahan ini cukup untuk bersaing dengan para rival sekelasnya yang sudah keburu tampil lebih modern?
Mitsubishi mempertahankan mesin turbodiesel 2.4 liter MIVEC yang sudah dipakai sejak generasi sebelumnya. Outputnya naik tipis menjadi 201 dk dengan torsi 480 Nm—angka yang sebenarnya sudah familier di pasar otomotif Tanah Air.
Transmisi otomatis 8-percepatan disalurkan melalui sistem Super Select II 4WD dengan kontrol S-AWC. Untuk medan sulit, pengunci diferensial belakang menjadi standar di semua varian.
Kemampuan mengebut hingga 3.500 kg membuat Pajero tetap relevan bagi pengguna yang butuh tenaga untuk menarikan trailer atau membawa perlengkapan off-road berat.
Bagi yang mencari Pajero untuk keperluan harian dan sekali-sekali off-road, GLS bisa menjadi pilihan. Varian ini hadir dalam konfigurasi 5 dan 7 kursi, bedanya hanya dihargai sekitar Rp 19 jutaan.
Paket ini sudah tergolong lengkap sebagai mobil keluarga, meski sistem audio dan material joknya kalah mewah ketimbang varian di atasnya.
Bukan, ini bukan tentang kompetisi dengan Honda CR-V. Justru posisi Exceed di sini adalah tawaran paling relevan bagi konsumen Indonesia yang sering membandingkan Pajero dengan Fortuner atau Everest. Fitur-fitur penambahnya mencakup:
Harga Exceed AU$ 79.990 (sekitar Rp 1,016 miliar) memang tinggi, tapi untuk ukuran SUV premium 7-kursi, posisinya masih masuk akal.
Ini varian paling menarik secara visual. GSR tampil dengan aksen gelap mulai dari velg 20 inci hitam hingga strip LED pada gril. Di dalam, joknya memakai kulit premium dua warna dengan ventilasi serta memori elektrik.
Fitur unik yang langka di kelasnya adalah panoramic roof dan pembersih udara kabin. Namun langit-langit kaca ini bisa menjadi tanda tanya tersendiri bagi yang berencana membawa Pajero ke daerah bersuhu ekstrem—menambah panas di kabin saat terik, meski telah disiasati dengan ventilasi kursi.
Jika melihat kebiasaan PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, skema penjualan versi Australia tidak selalu langsung diterapkan. Perlu dicatat bahwa konsumen Indonesia kerap menerima fitur yang dikurangi untuk menekan harga. Saat ini New Pajero hanya tersedia sebagai model CKD di Australia—belum ada konfirmasi akan dirakit atau dijual di Indonesia.
Mesin diesel 2.4 liter tetap menjadi satu-satunya pilihan. SuzukiJimny dan Ford Everest sudah menawarkan opsi hybrid atau bensin bertenaga lebih besar, dan konsumen yang mencari kenyamanan harian bisa kecewa dengan tingkat kebisingan diesel.
Kursi berpemanas dan layar besar 14,3 inci yang hadir di varian atas juga tidak selalu relevan untuk semua pasar. Jika versi Indonesia mengikuti pola ekspor sebelumnya, fitur-fitur seperti kursi ventilasi dan panoramic roof justru berpotensi dihilangkan untuk menjaga harga tetap bersaing di kala lawan seperti Fortuner GR Sport dipatok di bawah Rp 800 juta.
New Pajero telah membuktikan diri sebagai SUV tangguh. Namun di tengah pasar yang mulai beralih ke elektrifikasi dan tuntutan efisiensi, apakah masih cukup dengan sekadar memperbarui interior? Jawabannya baru akan muncul ketika versi finalnya benar-benar dipamerkan di Indonesia—bukan sekadar teka-teki harga dari Australia.