Hesti Haris mengungkapkan, hasil survei Dinas Pendidikan menunjukkan angka yang memprihatinkan. “Masih terdapat ribuan siswa tingkat SMA di Jambi yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik,” katanya di sela-sela acara di Gedung Nasional Kota Sungai Penuh.
Kondisi inilah yang mendorong TP PKK Provinsi Jambi bergerak cepat. Bekerja sama dengan Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Jambi, mereka menggelar Training of Trainer (ToT) bagi guru agama. Targetnya, para guru ini bisa menularkan metode belajar singkat dan efektif ke sekolah masing-masing.
Metode yang dilatihkan adalah “Belajar Mandiri 30 Menit Bisa Baca Al-Qur’an” karya Achmad Farid Hasan. Hesti menekankan, pendekatan ini dirancang agar mudah dipahami dan menyenangkan, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Kami ingin memastikan setiap anak dan anggota keluarga memiliki kesempatan belajar membaca Al-Qur’an dengan metode yang efektif dan menyenangkan,” ujar Hesti. Menurutnya, kunci utama sebelum belajar adalah motivasi. “Kalau seseorang tidak termotivasi, walaupun dia memiliki kemampuan, dia tidak akan bisa melakukan banyak hal,” lanjutnya.
Pelatihan di Sungai Penuh ini merupakan implementasi dari salah satu pilar pembangunan daerah yang dikemas dalam jargon “Lima Quik Wins”, yakni Pro Jambi Agamis. Program ini tidak hanya berhenti di Kerinci. Hesti Haris bersama TP PKK Provinsi Jambi telah menebarkan metode yang sama ke seluruh kabupaten/kota dan melatih banyak guru untuk mengajarkannya kembali di lingkungan masing-masing.
“Pelatihan ini diharapkan memberi keterampilan praktis kepada guru agama agar dapat menularkan metode pembelajaran cepat kepada siswa, sehingga kecintaan dan kemampuan membaca Al-Qur’an meningkat secara merata di seluruh provinsi,” kata Hesti. Ia menambahkan, Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam, dan kemampuan membacanya menjadi hal mendasar yang harus dimiliki setiap individu.
Hesti menegaskan bahwa program ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah daerah dan masyarakat. Dengan adanya pelatihan bagi para trainer, ia berharap pola pembinaan membaca Al-Qur’an bisa berjalan berkelanjutan, tidak hanya bersifat seremonial.
“Kita hadir di sini untuk membangkitkan semangat gerakan belajar Al-Qur’an di tingkat SLTA di wilayah masing-masing,” ucapnya. Ia optimistis, dengan metode yang tepat dan tenaga pengajar yang terlatih, target pemberantasan buta aksara Al-Qur’an di Jambi bisa tercapai lebih cepat.