JAMBI — Dua indikator ekonomi utama Provinsi Jambi menunjukkan pergerakan yang kontras. Di satu sisi, kinerja ekspor daerah melonjak signifikan hingga 68,29 persen. Di sisi lain, inflasi pada Mei 2024 tercatat sebesar 3,56 persen, menekan daya beli masyarakat.
Kenaikan inflasi ini menjadi perhatian utama, terutama bagi warga di Kota Jambi dan kabupaten sekitarnya. Angka 3,56 persen tersebut berada di atas rata-rata inflasi nasional pada periode yang sama, yang menandakan adanya tekanan harga yang cukup kuat di tingkat lokal.
Lonjakan ekspor Jambi yang mencapai 68,29 persen didorong oleh peningkatan permintaan terhadap komoditas unggulan daerah. Sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit dan turunannya, serta karet alam, menjadi penyumbang utama pertumbuhan ini.
Peningkatan volume dan nilai ekspor ini menjadi kabar baik bagi para pengusaha dan petani plasma di Jambi. Namun, efek positif dari ekspor ini belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama dalam hal stabilisasi harga pangan.
Inflasi Mei 2024 di Jambi sebesar 3,56 persen terutama disumbang oleh kenaikan harga bahan pangan dan transportasi. Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar.
"Kenaikan harga beras, cabai merah, dan minyak goreng masih mendominasi. Ini yang langsung dirasakan ibu-ibu di pasar tradisional," ujar seorang analis ekonomi daerah setempat. Kondisi ini memaksa rumah tangga untuk mengatur ulang anggaran belanja harian mereka.
Tekanan inflasi yang tinggi membuat daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, semakin tertekan. Sementara pendapatan dari sektor ekspor belum merata, kenaikan harga kebutuhan pokok langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Pemerintah Provinsi Jambi diharapkan segera mengambil langkah operasi pasar atau intervensi harga untuk menstabilkan harga bahan pokok. Tanpa intervensi yang cepat, inflasi diprediksi masih akan bertahan di level tinggi dalam beberapa pekan ke depan.