JAMBI — Harga TBS sawit di Provinsi Jambi kembali tertekan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan rilis resmi Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, harga di pabrik kelapa sawit (PKS) untuk periode 29 Mei-4 Juni 2026 turun menjadi Rp3.303,32 per kilogram (Kg). Angka ini anjlok Rp515,22 per Kg dari periode sebelumnya.
Penurunan harga tersebut langsung memangkas pendapatan petani sawit di sejumlah daerah, khususnya di Kabupaten Batanghari. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Batanghari, Lembang Harahap, mengonfirmasi bahwa harga di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp2.200 per Kg. "Untuk hari ini sendiri harga di pabrik sekitar Rp2.500 sampai Rp2.700 per kilogram, sedangkan di tingkat petani sekitar Rp2.200 per kilogram," ujarnya kepada Tribunjambi.com.
Lembang menyebut kondisi ini kontras dengan beberapa waktu sebelumnya. Harga TBS di tingkat petani sempat bertengger di level Rp3.200 hingga Rp3.300 per Kg. Artinya, dalam hitungan pekan, terjadi penurunan lebih dari Rp1.000 per Kg yang dirasakan langsung oleh pekebun.
Sementara itu, harga komoditas turunan sawit di pasar global justru masih relatif tinggi. Data Dinas Perkebunan mencatat harga Crude Palm Oil (CPO) berada di angka Rp12.601,89 per Kg, dan harga kernel (minyak inti sawit) mencapai Rp13.478,00 per Kg dengan indeks K sebesar 95,22 persen. Disparitas antara harga CPO dan TBS di pabrik ini kerap menjadi pertanyaan petani.
Harga TBS yang dirilis pemerintah provinsi berbeda-beda tergantung usia tanaman. Semakin produktif pohon sawit, semakin tinggi harga yang dibayarkan pabrik. Berikut rincian harga TBS untuk periode 29 Mei-4 Juni 2026:
Harga tertinggi berlaku untuk batang kelapa sawit pada usia produktif 10-20 tahun, yang menjadi acuan harga dasar Rp3.303,32 per Kg di pabrik.
Lembang Harahap menjelaskan, penurunan harga di tingkat petani sudah terasa sejak akhir pekan lalu. "Pada Sabtu dan Minggu lalu, harga sudah mulai turun," katanya. Ia menambahkan bahwa fluktuasi ini merupakan siklus yang kerap terjadi dan dipengaruhi oleh permintaan pasar global serta stok CPO di pabrik.
Para pekebun di Batanghari dan sekitarnya kini hanya bisa berharap harga kembali merangkak naik pada pekan depan. Sejumlah petani memilih menahan panen jika harga dinilai terlalu rendah, meskipun kualitas buah bisa menurun jika terlambat dipanen.