JAMBI — Jalangkote sekilas memang mirip pastel. Namun camilan khas Sulawesi Selatan ini punya karakter yang membedakannya, mulai dari kulit luar yang lebih tipis dan renyah berlapis, sampai isian gurih yang dipadukan saus cuka merah.
Perbedaan paling mencolok ada pada cara penyajian. Pastel umumnya dinikmati bersama cabai rawit hijau, sedangkan jalangkote wajib disantap dengan saus cair beraroma khas yang rasanya asam pedas menyegarkan.
Isian jalangkote biasanya memadukan bihun, potongan kentang, wortel, serta irisan telur rebus yang dibumbui rempah pas. Kombinasi ini yang membuat rasa gurihnya kuat tanpa perlu tambahan penyedap berlebihan.
Bagi yang ingin menghadirkan camilan legendaris khas Makassar ini di rumah, kunci utamanya ada pada tekstur kulit yang krispi dan tahan lama. Berikut bahan dan panduan pembuatannya.
Campuran tepung terigu protein sedang dan maizena berperan penting pada hasil akhir. Maizena disebut sebagai rahasia agar kulit jalangkote tetap renyah dalam waktu lama, bukan lembek setelah dingin.
Minyak goreng panas dan margarin leleh ditambahkan ke dalam adonan tepung. Keduanya membantu membentuk lapisan kulit yang bertekstur dan tidak mudah sobek saat digoreng.
Air es dipakai untuk menyatukan adonan, bukan air suhu ruang. Suhu dingin menjaga adonan tetap mudah dibentuk dan tidak cepat berubah tekstur sebelum digoreng.
Garam ditakar secukupnya, sekitar setengah sendok teh, supaya kulit tidak hambar saat disantap bersama isian. Adonan kemudian diuleni hingga kalis, lalu dibiarkan sebentar sebelum dicetak dan diisi.
Setelah kulit dibentuk dan diisi campuran bihun, kentang, wortel, serta telur rebus, jalangkote digoreng dalam minyak panas hingga kuning keemasan. Sajikan selagi hangat bersama saus cuka merah agar rasa asam pedasnya paling terasa.