JAMBI — Sebuah Kijang putih tua merayap perlahan di jalan berjerebu. Di Desa Merbau, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, pemandangan itu tersaji apa adanya: hutan lindung di satu sisi, konsesi hutan tanaman industri di sisi lain. Empat hari perjalanan darat itu menjadi semacam pengukuran atas jalan bumi, mencari makna nasionalisme yang tumbuh dari akar hutan, bukan dari baliho atau pidato.
Dari dekat, jejak perusahaan besar tampak nyata. Penebangan, pembukaan lahan, hingga pembakaran berlangsung di bawah narasi pembangunan dan ekonomi. Menebang di luar Rencana Kerja Tahunan (RKT), menggali kanal dengan alat berat, lalu membakar lahan, bukanlah rahasia lagi.
Ketika langit Indonesia menggelap, terutama di Kalimantan dan Sumatera, tuduhan justru jatuh ke pihak yang tak memegang kendali gergaji. Petani kecil, cuaca ekstrem, dan berbagai alasan lain disebut-sebut.
Sistem yang merusak nyaris luput dari sorotan. Padahal asap yang membawa penderitaan tak mengenal batas administratif maupun negara. Ia menyelimuti Singapura, Malaysia, Thailand, sampai Filipina.
Hutan hujan tropis Kalisuma—sebutan untuk Kalimantan-Sumatera—yang dahulu menjadi paru-paru dunia, kini berbalik menjadi sumber sesak napas bagi jutaan orang.
Selama empat hari menyusuri tepian Jambi, ratusan kera menyambut dari sela-sela pepohonan yang tersisa. Melalui jendela kendaraan, potongan roti disodorkan; lensa kamera merekam pertemuan singkat itu.
Di balik keharmonian sesaat, tersimpan keprihatinan. Satwa tak lagi betah di habitatnya sendiri. Kanopi hutan yang dulu lebat kini menganga.
Indonesia bangga menyebut diri sebagai produsen minyak sawit, minyak bumi, dan bubur kertas kelas dunia. Kebanggaan itu dibayar dengan harga sangat mahal: hutan yang tak lagi tersisa.
Keanekaragaman hayati yang menjadi warisan bangsa terperangkap dalam asap tebal. Tak peduli siapa yang duduk di istana.
Hutan telah lama menangis. Airmatanya kini berubah menjadi api, membakar mimpi dan masa depan generasi. Sementara di kota-kota besar, para pemimpin sibuk membakar semangat pendengar dengan pidato politik berbusa janji.
Dari Desa Merbau, Mendahara, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Indonesia menyala. Bukan karena kemajuan, melainkan karena kebakaran. Asap hitam membubung tinggi, semakin tinggi, semakin gelap, melintasi batas negeri, menelan masa depan dan mimpi.