Perubahan Iklim Ancam Swasembada Energi, Sungai Barito dan Kapuas Menyusut

Penulis: Hamzah Effendi  •  Senin, 21 September 2026 | 08:21:31 WIB
Sungai Barito dan Kapuas menyusut hingga kedalaman 3-4 meter, menghambat pelayaran tongkang batu bara.

JAMBI — Sungai Barito dan Kapuas menyusut tajam hingga kedalaman air tinggal 3-4 meter, jauh di bawah kebutuhan tongkang batu bara 6,5 meter. Kondisi ini memaksa muatan dipangkas dan mengancam pasokan listrik nasional, tepat ketika El Nino kuat melanda Indonesia.

Paragraf pembuka: Krisis iklim kini menekan sistem kelistrikan Indonesia dari dua arah sekaligus. Di Kalimantan, tongkang pengangkut batu bara terpaksa mengurangi muatan karena alur sungai tak lagi cukup dalam. Di Sulawesi, debit air pembangkit hidro anjlok drastis. Batu bara tersedia di tambang, tetapi belum tentu tiba saat pembangkit membutuhkannya.

Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam kajian terbaru berjudul "Weathering the Storm" menyebut krisis iklim sebagai ancaman nyata bagi keandalan, keamanan, dan harga listrik. Temuan ini muncul ketika penyusunan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tengah berlangsung.

Ketika Sungai Tak Lagi Bisa Dilalui

Selama beberapa pekan terakhir, kedalaman Sungai Barito dilaporkan hanya tersisa 3-4 meter. Padahal tongkang berkapasitas 7.500-10.000 ton membutuhkan draf sekitar 6,5 meter. Muatan batu bara pun dipangkas hingga tinggal 3.000-4.000 ton per pengiriman.

Kondisi serupa terjadi di Sungai Kapuas. Kapal bertonase besar tertahan karena alur tak lagi cukup dalam. Logistik batu bara dari tambang ke pembangkit terhambat, meski sumber daya energi tersedia melimpah di dalam negeri.

El Nino Pangkas Debit Air Pembangkit

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Enso Index pada periode Juni-Agustus mencapai +2,2 derajat Celsius. Angka itu masuk kategori El Nino sangat kuat. Fenomena ini secara material melemahkan kemampuan kelistrikan Indonesia.

Dampaknya terlihat jelas di Sulawesi. Aliran air ke pembangkit hidro menyusut sehingga daya PLTA Poso turun dari 515 MW menjadi 200 MW. PLTA Bakaru hanya sanggup menghasilkan 77 MW dari kapasitas 126 MW.

Saat ini, bersamaan dengan surutnya Kapuas dan Barito, debit air PLTA Bakaru, Malea, dan Poso ikut menyusut. Pemadaman bergilir pun dilakukan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Transmisi Roboh, Pemadaman Meluas

Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan lebat pada Mei lalu memutus jaringan transmisi 275 kV dan memicu pemadaman di Sumatra. Tak lama berselang, sembilan menara transmisi di Sumatera Utara roboh dan tiga lainnya rusak diterjang cuaca ekstrem.

Perubahan iklim menekan sistem listrik dari sisi permintaan dan pasokan sekaligus. Saat suhu naik, pemakaian listrik bertambah karena pendingin ruangan bekerja lebih keras. Di waktu yang sama, efisiensi pembangkit thermal turun dan jaringan listrik mengalami lebih banyak rugi (losses).

Di Bali, kajian IESR memperkirakan permintaan listrik bisa naik 10% akibat suhu yang makin tinggi. Sementara kemampuan pembangkit di sana justru turun sekitar 4%. Kebutuhan naik tepat ketika pasokan menurun.

Cadangan Listrik Terancam Menipis

IESR memperkirakan tekanan cuaca dan kejadian ekstrem bisa membuat cadangan listrik (reserve margin) turun sampai 36% pada 2034. Kapasitas yang di atas kertas tampak cukup bisa berkurang drastis begitu cuaca dan bencana berubah di luar asumsi perencanaan.

Selama ini sistem kelistrikan dibangun untuk menghadapi kegagalan satu komponen, yang dikenal sebagai kriteria N-1. Kriteria itu masih penting, tetapi banjir, longsor, badai, atau gelombang panas sanggup merusak beberapa aset sekaligus. Akses perbaikan pun tertutup, memperpanjang waktu pemulihan hingga berhari-hari.

Di sinilah dimensi resiliensi perlu masuk ke dalam definisi swasembada energi. Ukuran swasembada tidak cukup hanya dari banyaknya sumber energi domestik yang dapat diekstraksi. Yang tak kalah penting adalah bagaimana sistem energi tetap bekerja dalam segala situasi, beradaptasi, dan pulih dari kondisi ekstrem.

Batu bara yang ditambang di Kalimantan tidak menjamin lampu menyala bila angkutannya terhenti. PLTA juga tidak menjamin pasokan ketika kekeringan panjang mengurangi debit air. Definisi swasembada energi perlu dipertajam sejak awal, terutama saat RUEN sedang disusun.

Penutup: Risiko iklim abad ke-21 tidak bisa dihadapi dengan asumsi operasi abad ke-20. Tanpa pembaruan definisi dan perencanaan sistem, swasembada energi berisiko hanya menjadi angka di atas kertas.

Reporter: Hamzah Effendi
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top